TKPK Home arrow Ruang Berita arrow Berita Terbaru
Berita Terbaru
MENKO KESRA: PASIEN BISA TOLAK RESEP BUKAN OBAT GENERIK Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Ditulis Oleh shokhiyan   
Senin, 01 Maret 2010

Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) H.R. Agung Laksono tidak menutup mata masih adanya kemungkinan praktik dokter tidak memberikan obat generik kepada pasien kategori miskin di rumah sakit pemerintah.

“Di rumah sakit pemerintah bisa saja ada dokter yang menuliskan resep obat bermerek, bukan obat generik. Yang perlu kita arahkan, bagaimana pasien maupun keluarganya BISA menolak resep obat yang diberikan dokter tersebut,” katanya dalam siaran pers(1/3).

Kewajiban menulis resep generik sudah diatur Menteri Kesehatan. Untuk itu segenap pemangku kepentingan perlu secara sadar dan bertanggungjawab mengamankan kebijakan penggunaan obat generik ini. “Kita berharap dengan semakin bebasnya masyarakat mengkritisi implementasi suatu kebijakan, penggunaan obat generik ini tersosialisasi dengan baik,” ujarnya.

Kementerian Kesehatan salah satu institusi di bawah koordinasi Kemenko Kesra senantiasa memberikan laporan kinerja dan secara koordinatif membahasnya bersama kementerian terkait. “Dengan demikian, setiap permasalahan bidang kesra diharapkan dapat dibahas bersama untuk mendapatkan solusi terbaik, agar implementasinya tidak tumpang tindih,” kata Agung Laksono.

Ditegaskan, perhatian terhadap pelayanan kesehatan dan penggunaan obat khususnya terhadap masyarakat miskin semakin ditingkatkan. Peraturan Menkes tentang kewajiban menuliskan resep generik di semua fasilitas rumah sakit milik pemerintah hanya salah satu contoh kongkret perhatian pemerintah. Masih ada hal lain, seperti penetapan pembatasan harga eceran tertinggi obat dan obat generik berlogo. “Terkait hal ini juga kami bicarakan tentang, penetapan kebijakan maksimum ratio harga eceran tertinggi obat branded dan generik,” ujar Menko Kesra yang juga alumnus Fakultas Kedokteran UKI Jakarta ini.

Bahkan dalam hal penentuan harga eceran tertinggi (HET) obat, pemerintah melalui Menkes telah menetapkan, dalam penyaluran obat generik, para produsen/pedagang besar farmasi (PBF) harus menggunakan harga apotik netto plus pajak pertambahan nilai sebagai harga patokan tertinggi. “Tetapi dalam rangka menjamin ketersediaan dan pemerataan obat generik, produsen maupun PBF dapat menambahkan biaya distribusi dari lima sampai 20 persen, tergantung lokasi rumah sakitnya,” tambah Agung.

Menurut Menko Kesra kebijakan ini jelas diatur melalui Keputusan Menteri Kesehatan tentang obat generik, yang khusus diterbitkan dalam rangka implementasi program 100 hari kementerian tersebut. Dengan adanya keputusan tertanggal 27 Januari 2010 ini, maka peraturan lain terkait harga obat generik dicabut. “Di sini saya melihat, kebijakan pemerintahan sekarang semakin transparan dan bisa menjadi pegangan seluruh masyarakat.”

Agung juga mengungkapkan, pengendalian soal obat bukan hal yang tidak bisa diselesaikan. Sebagai komoditas khusus, memang masyarakat perlu mendapat perlindungan. Untuk itu koordinasi di tingkat kementerian terus ditingkatkan, karena untuk berbicara industri farmasi, banyak aspek yang harus dikaji bersama. “Bagi pemerintah saat ini, semua kebijakan harus ditujukan demi kesejahteraan rakyat. Untuk itu semua pihak harus bisa mengamankan dan memberikan dorongan untuk pencapaiannya. Bagi pemerintah SBY-Boediono menurut saya tidak ada yang tabu untuk dikritik, asal didasarkan fakta dan demi kepentingan bersama,” Agung menambahkan. (*)     

 
Banyak Puskesmas Belum Siap Dengan BOK Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Ditulis Oleh shokhiyan   
Kamis, 25 Februari 2010

Beberapa puskesmas di Kupang ternyata belum siap dengan program atau kegiatan dalam mendukung program Biaya Operasional Kesehatan (BOK) yang akan diberlakukan.

         Itulah salah satu temuan permasalahan yang mengemuka dalam kunjungan kerja yang dilakukan Deputi Bidang Kependudukan, Kesehatan dan Lingkungan Hidup  Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat bersama Deputi representati UNCEF ke kupang NTT 11-13 Februari lalu.
         Kunjungan kerjasama tersebut menurut Deputi Bidang Kependudukan, Kesehatan dan Lingkungan Hidup Kemenko Kesra Emil Agustiono, bertujuan mengevaluasi pencapaian kegian UNICEF tahun 2004-2009 dan rencana kegiatan tahun 2010.
        Dalam programnya UNICEF  telah membantu pemerintahan kabupaten dan kota di NTT yang meliputi Kabupaten  Kupang, Kabupaten TTS,  Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Alor, Kabupaten Sikka, Kabupaten Ende, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya dan Kota Kupang.
         Bantuan tersebut diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan keberlangsungan hidup dan perkembangan anak, pengembangan mutu pendidikan dan remaja, serta kebijakan perlindungan sosial.
Masalah lain yang mengemuka di bidang kesehatan adalah prevelensi penyakit menular yang tinggi selain kematian ibu dan anak pasca kelahiran. Kecenderungan kenaikan KLB yang selalu melanda daerah ini antaralain gizi buruk, diare, DBD, malaria dan campak.
        Kondisi tersebut disebabkan karena keterbatasan tenaga medis khususnya dokter spesialis yang enggan ditugaskan di daeraj terpencil. Ditambah lagi keterbatasan sarana dan prasarana kesehatan di daerah-daerah yang sulit dijangkau.
       “Para dokter spesialis masih enggan untuk ditugaskan di daerah terpencil sehingga berpengaruh terhadap kualitas layanan kesehatan yang ada,” ungkap Emil yang tertulis dalam rilisnya.
       Dalam kesempatan yang sama Pemprov NTT mengungkapkan bahwa guna mendukung ketersediaan dokter yang bersedia ditempatkan di puskesmas kabupaten-kabupaten, tambahnya, Pemprov NTT melalui dinas kesehatan sejak tahun 2003 telah memberikan  beasiswa bagi mahasiswa asal NTT yang kuliah di Fakultas Kedokteran.
       Di sisi lain untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak pasca persalinan, Pemprov NTT melalui Kepala Dinas meminta dukungan Kementerian Kesehatan tambahan ambulan bagi daerah-daerah terpencil.
Sedangkan upaya mencegah dan menanggulangi wabah diare, Pemprov NTT melalui Kementerian Kesra memohon dukungan sarana penyediaan air minum bersih dan sehat bagi masyarakat utamanya yang tinggal di perkotaan dan perdesaan terpencil.
      Untuk persoalan program Jamkesmas, Pemprov NTT mengungkapkan bahwa masih belum sepenuhnya mencakup warga miskin yang ada. Hal ini menginggat masih belum sinkronnya data jumlah penduduk miskin (unifed data base).  Oleh karena itu dipandang perlu dukungan pendanaan melalui APBD tambahan APBN untuk mendukung kekurangan alokasi Jamkesmas bagi masyarakat miskin yang ada.
     Pada kunjungan tersebut, rombongan juga menijau langsung SD Inpres 3 Oetete Kupang sebagai SD teladan yang telah dibantu UNICEF dua unit komputer. Bantuan ini untuk menunjang program pembelajaran siswa yang mempraktekkan kompetensi ini mulai dari kelas III hingga kelas VI.  (yn/humaskesra)

 
Perpres Penanggulangan Kemiskinan Segera Terbit Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Ditulis Oleh shokhiyan   
Kamis, 25 Februari 2010

Keberadaan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan dinilai sangat strategis dalam melakukan langkah-langkah percepatan menanggulangi kemiskinan.
 
Hal ini diungkapkan Staf Khusus Bidang Media Massa Yopie Hidayat . Sebagaimana dilansir Kompas (23/2), Yopie mengungkapkan bahwa Peraturan Presiden (Perpres) tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan yang hingga kini belum selesai dan masih difinalisasi di Sekretariat Negara (Setneg) menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi upaya percepatan penanggulangan kemiskinan.
 
Dengan belum selesainya Perpres tersebut, terang Yopie, membuat  badan khusus, yaitu Komite Nasional Penanggulangan Kemiskinan (KNPK) pun belum terbentuk. "Akan tetapi, dalam waktu dekat ini, perpres tersebut akan segera diselesaikan. Sekarang masih difinalisasi di Setneg. Diharapkan, pekan ini juga perpres ditandatangani oleh Presiden," ujarnya.
 
Keberadaan Perpres tersebut sangat penting  karena akan memberikan payung hukum bagi Wapres yang dibantu Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan sejumlah menteri terkait dalam menjalankan program pengentasan kemiskinan.

"Untuk mempercepat dan mempermudah koordinasi, penanggulangan kemiskinan yang sebelumnya ditangani oleh Kantor Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat ditingkatkan menjadi semacam badan dan langsung ditangani oleh Wapres," tegasnya.

Lebih lanjut, Yopie menjelaskan bahwa secara substansi materi Perpres meliputi tiga basis, yaitu basis keluarga melalui program-program bantuan langsung dengan syarat seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang harus ditopang basis data mutakhir kependudukan. Program ini nantinya langsung ditangani oleh Wakil Presiden.

Dua basis lainnya adalah basis komunitas dan basis usaha. Untuk basis komunitas seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri akan ditangani Manko Kesra. Sedangkan untuk basis usaha seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dijalankan oleh Menko Perekonomian.

“"Basis lainnya adalah basis komunitas seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri yang ditangani oleh Menko Kesra serta basis usaha seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dijalankan oleh Menko Perekonomian," tambahnya.

Menanggapi belum selesainya Peraturan Presiden (Perpres) tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, Menko Kesra Agung Laksono secara terpisah menyatakan perpres tersebut sebenarnya tidak ada lagi masalah secara substansial sehingga dalam waktu dekat akan segera ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Menko Kesra mengakui jika perpres tersebut diterbitkan, maka Wakil Presiden Boediono akan bertanggung jawab dalam koordinasi. Sedangkan dirinya akan menjalankan tugas keseharian. "Tugas koordinasi  oleh Wapres Ada pun saya yang menjalankan keseharian lembaga baru tersebut," ujar Menko Kesra.(*)
 
PNPM Terbukti Manfaatnya Bagi Masyarakat Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Ditulis Oleh shokhiyan   
Kamis, 25 Februari 2010

Program PNPM Mandiri sudah banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat msikin di Indonesia baik dalam bentuk pemenuhan infrastruktur maupun pemberdayaan ekonomi produktif. Khusus untuk ekonomi produktif tercatat ada 750 kelompok usaha produktif, diantaranya 22 ribu kelompok dikelolah kaum perempuan.

Hal ini diungkapkan Asisten Deputi Urusan Pengarusutamaan Kebijakan dan Anggaran Kementerian Koordiantor Kesejahteraan Rakyat, Wahnarno Hadi dalam acara Talk Show Kabinet Indoensia Bersatu Menjawab, di TVRI beberapa waktu lalu.
 
Program PNPM Mandiri sendiri, menurut Wahnarno, merupakan bagian dari program penanggulangan kemiskinan. Sebenarnya program penanggulangan kemiskinan yang ada tercakup dalam tiga kluster. Kluster pertama bagaimana memberikan bantuan dan perlindungan sosial semisal program Raskin, Beasiswa untuk penduduk miskin, dan PKH.
 
Kemudian kluster kedua pemberdayaan masyarakat yang instrumennya melalui PNPM Mandiri. Program yang mulai dijalankan pada tahun 2007 ini pada tahun 2009 telah mencakup seluruh kecamatan yang ada di Indonesia.

 “Seperti kita ketahui PNPM Mandiri dimulai tahun 2007 kemudian tahun 2009 seluruh kecamatan yang ada di Indonesia 6. 408 sudah tercover program PNPM Mandiri. PNPM Mandiri akan berlanjut hingga 2015 paling tidak sesuai dengan komitmen bangsa kita terhadap MDGs,” ungkap Wahnarno.

Kemudian kluster Ketiga, melalui pemberdayaan usaha mikro atau kecil yang instrumennya melalui pemberian kredit usaha rakyat atau yang dikenal dengan KUR.  “Kalau program-program yang ada ini dapat kita kawal bersama, kita yakin akan pelan-pelan mampu menurunkan jumlah penduduk miskin yang ada,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wahnarno kembali menegaskan bahwa penanggulangan kemiskinan merupakan komitmen bangsa Indonesia untuk menanggulangi kemiskinan yang  tercantum dalam amanat kontitusi baik di pembukkan UUD 45 maupun Batang Tubuhnya.

“Kita ketahui bersama bahwa penanggulangan kemiskinan merupakan komitmen bangsa kita untuk menanggulangi kemiskinan dan ini tercantum dalam amanat kontitusi baik di pembukkan UUD 45 maupun batang tubuh UUD 45,”  uajranya.
 
Dari beragam program penanggulangan kemiskinan yang dijalankan pemerintah terbukti mampu mengurangi angka kemiskinan di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari indikator jumlah penduduk yang ada. Pada bulan maret 2009 jumlah penduduk miskin itu sekitar 32, 5 juta atau 14,1 persen. Jumlah ini mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau kita melihat mengenai apa-apa yang telah kita lakukan, mungkin bisa kita lihat dari indikator jumlah penduduk miskin sekatang. Pada bulan maret 2009 bahwa jumlah penduduk miskin itu sekitar 32, 5 juta atau 14,1 persen,” tambahnya.

Kondisi tersebut, terang Wahnarno, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya sebenarnya mengalami tren penurunan. Mulai dari tahun 2004, 2005 angka kemiskinan terus mengalami penurunan. Sedangkan tahun 2006 mengalami sedikit kenaikan yang disebabkan kenaikan harga BBM. Akan tetapi sejak tahun 2007 hingga 2009 kembali mengalami penurunan.

“Walaupun kita akui secara agregrat jumlah penduduk yang miskin masih terlalu cukup besar. Tetapi program-program penanggulangan kemiskinan dari pemerintah konsisten tetap ada. Untuk itu kita terus berupaya mengkonsolidasikan terutama program yang berbasis pemberdayaan masyarakat yang selama ini tersebar di berbagai departemen sehingga sasaran akan lebih tepat.

Lebih khusus, Wahnarno mengungkapkan bahwa program PNPM Mandiri sebenarnya sangat mudah diakses oleh masyarakat karena sudah ada petunjukknya. Misalnya masyarakat di perdesaan  sudah ada PNPM Mandiri Perdesaan. Program, ini sudah dilengkapi dengan  fasilitaor mulai provinsi hingga di tingkat desa. “Jadi kalau ada masyarakat disitu yang ada potensi untuk mengembangkan dirinya melalui PNPM cukup berhubungan dengan fasilitator yang ada di situ,”.
 
Sedangkan bagi masyarakat perkotaan telah ada PNPM Mandiri Perkotaan. Diwilayah perkotaan bahkan sudah ada lembaga partisipatif yang dibangun PNPM Mandiri Perkotaan yang berupa Badan Kswadayaan Masyarakkat (BKM). Manfaatnya semua masyarakat dapat mengakses program yang ada melalui lembaga ini. Selanjutnya BKM juga melakukan pembinaan mulai dari pembentukan kelompok, identifikasi permasalahan mereka dalam kemiskinan, sampai merencanakan kegiatan apa yang dibutuhkan oleh mereka.

“Kegiatan semacam ini sebenarnya udah berjalan hampir di semua kecamatan di Indonesia. saya kira program  manfaatnya banyak sekali,” tegasnya.

Integrasi Keberlanjutan

Keberadaan program penanggulangan kemiskinan yang dijalankan pemerintah melalui model tiga kluster  selama ini dinilai sudah bagus. Namun menurut pengamat ekonomi dan pemerhati sosial Aviliani program yang ada harus dikuti pula dengan polecy pemerintah yang lain.

Misalnya untuk kluster ketiga mengenai kredit usaha rakyat. Pemerintah tidak cukup hanya memberikan kredit saja tapi lupa dengan pembinaan dan sustanability mutu mereka. Karena jika kurang pembinaan maka produk yang dihasilkan akan kurang menjaga mutu sehingga orang tidak mau membelinya dan pada akhirnya kredit yang mereka peroleh akan macet.

“Jadi yang saya lihat adalah sustanability atau keberlanjutannya tentang pembinaan. Karena biasanya masyarakat di kelas miskin pendidikannya rendah sehingga mereka tidak tahu dimasa depan seprti apa,” ujar Aviliani.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian pemerintah, terang Aviliani, selain pendampingan harus ada trading hause seperti contohnya di Thailand. Sehingga mereka  tinggal berbuat dan proses yang menjual pemerintah.
“Bagi mereka bukan sekedar akses modal yang penting tapi setelah modal tersebut diperoleh, akases berikutnya pemasarannya, SDM nya.

Sedangkan menengenai PNPM Mandiri, dirinya juga menilai sangat bagus karena berhubungan dengan kebutuhan masyarakat. Akan  tetapi  problemya adalah siapa yang mengkreat program tersebut karena sering kali bukan berasal dari masyarakatnya tetapi ada yang mengkreasikan supaya masyarakat ikut.

“Seharus PNPM ini lebih melihat integrasi antardaerah. Karena kalau setiap kecamatan membuat produknya sendiri tidak akan terintegrasi dengan baik dan biayanya menjadi mahal,” tambahnya.

Untuk itu menurut hemat Aviliani, mungkin dalam satu kabupaten atau antar kecamatan berbicara satu kecamatan satu produk unggulan. Kemudian dikembangkan di situ mulai dari  proses produksi  sampai trading house sehingga usaha tersebut berkesinambungan.

Selain itu perlu juga program ABG (Academic, Business and Government). Ini artinya  akademisi atau perguruan tinggi yang ada di sana dijadikan Kemudian govermen membuat kebijakan yang cocok dengan penggunanan PNPM Mandiri sedangkan bisnis artinya usaha besar yang ada dapat membina usaha kecil  yang juga ikut membeli produk tersebut.

“Integrasi di masalah ini saya nilai belum besar. Sehingga konsepnya bagus namun dalam implemntasinya tidak terjadi kesinambungan di dalam penggunaannya,” tegasnya. (yn)

 
Enam Tantangan Pembangunan Kesra Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Ditulis Oleh shokhiyan   
Senin, 22 Februari 2010


Pemerintah akan terus berjuang keras untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui berbagai program yang pro rakyat miskin. Upaya tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang dijalankan.


program tersebut antara lain perlindungan sosial bagi 18.1 juta KK miskin berupa Raskin dan Bantuan Tunai Bersyarat melalui Program Keluarga Harapan di 20 (dua puluh provinsi). Ada juga program JAMKESMAS bagi 76,4 juta jiwa masyarakat miskin dan hampir miskin,  pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan nantinya program Bantuan Operasional Kesehatan (BOK ) bagi Puskesmas sebesar Rp 100 juta / Puskesmas / tahun.

 

Hal ini diungkapkan Menko Kesra, HR. Agung Laksono pada saat peresmian Pembangunan Infrastruktur Penyediaan Sarana Air Bersih, Rehabilitasi  Pengaman Pantai di Pasir Padi dan Peninjauan Lokasi Rencana Pengembangan Rumah Sakit Umum Daerah “DEPATI HAMZAH Pangkalpinang” di Kota Pangkal Pinang Minggu pagi (21/2).

 

Selain itu, lanjut Menko Kesra, dilaksanakannya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri di 3999 kecamatan pada tahun 2008 dengan dana sebesar Rp 5.924 Triliun dan pada tahun 2009 telah ditingkatkan menjadi  6408 kecamatan dengan dana sebesar Rp 10,355 Triliun. Program ini bertujuan untuk  membuka peluang lapangan kerja informal serta meningkatkan kemandirian masyarakat miskin agar hidup lebih sejahtera .

 

Meski demikian Menko Kesra menegaskan bahwa pembangunan kesejahteraan rakyat di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yaitu :Pertama, disparitas antar tingkat sosial ekonomi, disparitas antar kawasan Indonesia bagian barat , tengah dan timur serta terjadinya disparitas perkotaan –perdesaan yang berdampak pada masih tingginya jumlah penduduk miskin.( 14,15% atau 32,53 juta jiwa di tahun 2009 ) dan terbatasnya lapangan kerja.  

 

Kedua,beban ganda penyakit, di Indonesia telah terjadi transisi demografi dan transisi epidemiologi , sehingga Indonesia menghadapi beban ganda (double burdens) yang ditandai dengan masih tingginya prevalensi  penyakit infeksi menular seperti Tuberkulosis, Diare dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) namun dalam waktu bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular seperti stroke, penyakit jantung dan Diabetes Mellitus serta kanker. Disamping itu, Indonesia juga menghadapi Emerging Infectious Diseases seperti demam berdarah dengue (DBD), HIV dan AIDS, serta penyakit menular lainnya yang berpotensi menjadi pandemi.


Ketiga, kinerja para petugas pelayanan publik masih  belum optimal yaitu ditengarai dengan belum dilaksanakannya Standar Pelayanan Minimal (SPM) secara benar  dan untuk perlu itu dilaksanakan  segera program reformasi birokrasi. Keempat, Perilaku sebagian  masyarakat yang kurang mendukung pola hidup bersih dan sehat.


Kelima, masih rendahnya kondisi kesehatan lingkungan dan keterbatasan air bersih dan air minum di berbagai wilayah di tanah air. Untuk itu Pemerintah secara nasional telah Mengembangkan Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan Program Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga oleh Kementerian Kesehatan, Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Masyarakat (PAMSIMAS) oleh Kementerian Pekerjaan Umum serta Revitalisasi Manajemen  Perusahaan Daerah Air Minum di berbagai kabupaten dan kota.

 

Tantangan yang keenam yaitu belum meratanya akses terhadap pelayanan kesehatan berkualitas terutama pelayanan medik spesialistik yang belum memenuhi harapan masyarakat. Masyarakat juga merasa belum puas dengan mutu pelayanan rumah sakit karena lambatnya pelayanan, kesulitan administrasi dan lamanya waktu tunggu. (sumber humas kesra)

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 9 dari 226
Home | Site Map | Contact Us | Search

© 2007 Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan, All Rights Reserved. Hosted by MWN.